Mengenal Lebih Dalam Tentang Unicorn

  • 8 Months ago

Mungkin istilah Unicorn bukanlah salah satu yang baru lagi kita dengar. Seperti yang kita ketahui, dalam debat Capres (calon presiden) putaran kedua pada Minggu lalu (17/2/2019), kedua calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto menyinggung soal keberadaan perusahaan-perusahaan rintisan (startup) unicorn.

Akan tetapi, mungkin diantara kita ada yang kurang mengetahui hal ini, atau mungkin pernah mendengar kata unicorn pada kisah legenda atau tokoh kartun. Tapi unicorn yang akan dibahas kali ini bukanlah unicorn seperti yang ada pada tokoh kartun. So, untuk mengetahui lebih banyak tentang unicorn tersebut, mari kita simak pembahasan di bawah ini.

Apa itu Unicorn?

Unicorn adalah sebutan bagi perusahaan rintisan atau startup yang punya valuasi (nilai bisnis dari suatu perusahaan) sudah mencapai US$1 miliar atau setara Rp14 triliun (dengan kurs Rp14.000/USD). Istilah unicorn ini pertama kali dilontarkan oleh Aileen Lee yang merupakan pendiri Cowboy Ventures.

Melansir dari TechCrunch, Istilah itu pertama kali muncul ketika Cowboy Ventures membangun dataset perusahaan teknologi yang berbasis di AS saat Januari 2003. Sejak membangun dataset tersebut, ditemukan 39 perusahaan yang memiliki nilai valuasi lebih dari US$1 miliar di AS, sehingga Lee menyebutnya sebagai unicorn sebab telah memenuhi kriteria.

Jadi istilah ‘startup’ ini tergolong dalam tiga kategori, yakni:

  • Unicorn: Startup dengan nilai bisnis perusahaan mencapai lebih dari US$1 miliar
  • Decacorn: Startup dengan nilai bisnis perusahaan mencapai lebih dari US$10 miliar
  • Hectocorn: Startup dengan nilai bisnis perusahaan mencapai lebih dari US$100 miliar

Perusahaan-perusahaan rintisan yang sudah masuk kategori unicorn secara global semakin bertambah banyak. Era teknologi telah menjadi peluang berkembangnya startup-startup di seluruh penjuru dunia. Berdasarkan data CB Insights real-time unicorn tracker, setidaknya ada 325 unicorn startups di dunia per 19 Februari 2019 yang masuk dalam ‘The Global Unicorn Club’, dengan nilai secara keseluruhan mencapai US$1074 miliar.

Pada 2016, jumlah startup yang masuk dalam daftar klub unicorn global sebanyak 127 startup. Jumlah ini meningkat sebanyak 198 startup yang masuk dalam jajaran unicorn hingga awal 2019 ini, menjadi 325 startup unicorn.

Hubungan Nilai Valuasi dengan Gelar Unicorn

Gelar Unicorn tersebut, dapat diraih apabila suatu startup sudah mencapai nilai valuasi tertentu. Namun, apa itu nilai valuasi? Valuasi adalah nilai ekonomi dari sebuah bisnis. Apabila ada sebuah perusahaan yang mempunyai valuasi Rp1 triliun, maka siapa pun yang ingin mengakuisisi penuh perusahaan tersebut harus mempersiapkan uang minimal Rp1 triliun. Angka valuasi ini biasanya dijadikan acuan untuk mengukur seberapa besar potensi bisnis sebuah perusahaan.

Sebagai founder suatu startup, kamu perlu menghitung valuasi demi menentukan persentase saham yang akan diberikan kepada investor saat terjadi pendanaan. Valuasi ini juga penting untuk menentukan harga jual startup kamu apabila terjadi merger atau ada perusahaan lain yang tertarik untuk mengakuisisi startup milikmu.

Metode perhitungan valuasi startup sebenarnya serupa dengan bisnis konvensional. Namun, karena startup pada tahap awal biasanya belum mendapat pemasukan atau keuntungan (yang biasanya menjadi dasar perhitungan valuasi), maka perlu ada sedikit penyesuaian.

  • Untuk menghitung valuasi perusahaan konvensional, hal-hal berikut biasanya ikut dipertimbangkan:
  • Nilai perusahaan di bursa saham (market cap).
  • Nilai dari jenis saham lain yang dimiliki perusahaan (misal: saham preferen, minority interest).
  • Utang perusahaan.
  • Uang tunai yang dimiliki perusahaan.

Dari variabel-variabel tersebut, valuasi perusahaan bisa didapat dengan rumus:

Valuasi = (Nilai Saham + Utang) – Uang Tunai

Daftar Startup di Asia Tenggara

Asia Tenggara merupakan kawasan yang memiliki unicorn terbanyak di kawasan Asia setelah Tiongkok dan India. Berikut daftar perusahaan-perusahaan rintisan unicorn yang ada di Asia Tenggara, Indonesia punya startup unicorn lebih banyak.

1. Grab

Grab adalah perusahaan rintisan di bidang jasa/pelayanan (on-demand) yang merupakan startup asal Singapura dengan valuasi di awal 2019 mencapai US$11 miliar. Perusahaan ini digawangi oleh Founder Grab Anthony Tan dan Co-Founder Tan Hoo Ling. Karena nilai bisnisnya sudah di atas 10 miliar dolar AS, maka Grab kini masuk dalam kategori startup decacorn.

2. Gojek

Gojek merupakan startup di bidang penyedia jasa transportasi Indonesia yang berkembang pesat setelah meluncurkan aplikasinya pada awal tahun 2015. Perusahaan ini didirikan oleh Nadiem Makarim yang cukup setia menggunakan jasa ojek sebelumnya.

Gojek menjadi startup pertama asal Indonesia yang mendapat gelar Unicorn. Gojek, memantapkan diri sebagai “Unicorn” tepat pada 4 Agustus 2016 lalu selepas menerima pendanaan senilai US$550 juta atau saat ini setara dengan Rp7,7 triliun dari konsorsium 8 investor yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug. Gojek menyandang gelar Unicorn setelah sekitar 6 tahun berdiri. Waktu yang cukup bagi startup untuk mendapatkan gelar tersebut.

Tak berhenti di situ, pada 4 Mei 2017 Gojek kemudian memperoleh suntikan dana tambahan senilai US$1,2 miliar atau saat ini setara dengan Rp16,9 triliun dari Tencent Holding dan JD.com.

Hal inilah yang membuat suksesnya Gojek dalam hal total pendanaan mencapai angka US$1,75 miliar atau saat ini setara dengan Rp24,6 triliun, yang merupakan nilai tertinggi di antara empat “Unicorn” Indonesia. Sedangkan, baru-baru ini Gojek juga dikabarkan baru saja menerima kucuran dana dari Google sebesar US$1,2 miliar atau saat ini setara dengan Rp16,9 triliun.

3. SEA (Garena)

Startup asal Singapura yang meraih gelar unicorn selanjutnya adalah SEA. Startup yang dulunya dikenal dengan nama Garena ini merupakan perusahaan belanja dan permainan online. Telah ditetapkan sebagai startup unicorn sejak tahun 2016. SEA membawahi beberapa bisnis seperti permainan online Garena, e-commerce Shoope dan layanan pembayaran digital AirPay. SEA Gorup atau dikenal dengan Garena adalah perusahaan rintisan bidang games dengan valuasi sekitar US$4,5 miliar. Startup ini didirikan pada tahun 2009 oleh Forrest Xiaodong Li.

4. Traveloka Indonesia

Traveloka adalah startup e-commerce travel (travel tech) asal Indonesia dengan valuasi sebesar US$2 miliar. Traveloka didirikan pada tahun 2012. Orang-orang di balik kesuksesan startup ini adalah Derianto Kusuma, Ferry Unardi, dan Albert Zhang.

5. Tokopedia

Startup kedua asal Indonesia yang mendapatkan gelar Unicorn ialah Tokopedia. Berdasarkan data yang dijabarkan dari Crunchbase, startup bidang layanan online market place tersebut, kini secara keseluruhan telah memperoleh pendanaan senilai US$1,34 miliar atau saat ini setara dengan Rp18,9 triliun.

Dari angka tersebut, investasi terbesar dicacatkan pada 17 Agustus 2017 lalu ketika Tokopedia memperoleh dana senilai US$1,1 miliar atau saat ini setara dengan Rp15,5 triliun dari Alibaba. Sama dengan Gojek, Tokopedia mendapatkan gelar Unicorn setelah 6 tahun berdiri.

6. Bukalapak

Bukalapak adalah startup e-commerce asal Indonesia dengan nilai bisnis sebesar US$1 miliar. Bukalapak didirikan pada Januari 2010 oleh Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono.

7. Revolution Precrafted

Revolution Precrafted adalah startup unicorn dengan nilai perusahaan lebih dari US$1 miliar yang berdiri sejak 2015 ini adalah desainer pengembang rumah prefabrikasi asal Filipina. Founder dan CEO Revolution Precrafted adalah Jose Roberto Antonio yang lahir pada 1977 silam.

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa keadaan ekonomi suatu negara berpengaruh terhadap pertumbuhan perusahaan-perusahaan rintisan unicorn. Semoga artikel di atas bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan Anda tentang bisnis. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya ya. Terima kasih.

  • facebook
  • googleplus
  • twitter
  • linkedin
  • linkedin
Previous «
Next »